Sejarah Desa Melinggih

Diperkirakan sekitar abad 11, Resi Markendya, salah satu penyeber agama Hindu dari Jawa ke Bali, menelusuri sungai Wos di sekitar Ubud dalam perjalanannya menuju Gunung Agung. Dalam perjalanan ini beliau sempat membangun beberapa tempat persembahyangan (Pura) dan perkampungan yang diberi nama sesuai dengan tujuan beliau membuat pura dan perkampungan tersebut. Payogan, misalnya, adalah tempat yang digunakan oleh beliau dan pengikutnya untuk melakukan yoga dengan tujuan menghubungkan diri dengan Ida Shang hyang Widihi Wasa. Demikian juga Parahyangan (sekarang disebut Payangan) diyakini adalah tempat suci untuk menuju alam kedewataan melalui kegiatan semadi tapa dan yoga. Demikian juga halnya, Desa Melinggih yang berarti Duduk, adalah tempat atau desa dimana Resi Markendya sering duduk bersila untuk memusatkan pikiran menghadap ke Gunung Agung yang menjulang tinggi di arah timur laut Desa tersebut.

Ada beberapa Pura dan Banjar yang telah beliu bangun pada perjalanan beliau sejak menapaki tempat/tanah di Desa Melinggih diantaranya : Pura kahyangan tiga yaitu Puseh, Bale Agung, Dalem Agung juga Pra Tegal Suci, Para Melanting, Pura Nataran Air Jeruk, Pura Murwa Bumi, Pra Masceti

Disebutkan juga Desa Melinggih dulunya terdiri dari 2 Desa adat yaitu Desa Payangan dan Desa Bayad di Banjar Bayad. Karang Embang (Suwung) yang sekarang disebut Banjar Karang Suwung dan Pura Bale Agung Khayangan (sekarang Bale Agung Payangan). Dari Bale Agung Khayangan (Parahyangan) inilah Resi Markendya membangi Khyangan (wilayah suci) yang ada pada saat itu menjadi 1 banjar (pedukuhan) seperti berikut ini.

  1. Banjar Melinggih

  2. Banjar Payang Desa

  3. Banjar Badung

  4. Banjar Gerida

  5. Banjar Sema

  6. Pengaji

  7. Banjar Bayad

  8. Banjar Paneca

  9. Banjar Karang Suwung

  10. Banjar Begawan, dan

  11. Banjar Tibakauh

Secara administratif kepemerintahan, Desa Melinggih adalah salah satu Desa dari Desa Melinggih Kelod, Kelusa, Bukian, Buahan, Puhu, dan Kerta, Bresela, Buahan Kangin, ada di Kecamatan Payangan, dimana desa Melinggih merupakan pusat pemerintahan di Payangan sejak jaman Kerajaan sampai saat ini

Selanjutnya, berdasarkan Undang-undang nomor 5 tahun 1979 Tentang Pemerintahan Desa dan mempertimbangkan percepatan proses pembangunan maka tokoh-tokoh masyarakat Desa Melinggih dan Pemerintah Desa sepakat untuk mengadakan pemekaran desa Melinggih menjadi Desa Melinggih Kaja dan Desa Melinggih Kelod. Kemudian Berdasarkan Surat Keputusan Gubernur Bali Nomor 10 tahun 1989 pada tanggal 7 Januari tahun 1989 Desa Melinggih dimekarkan menjadi Desa Melinggih dan Desa Persiapan Melinggih Kelod dengan pembagian Wilayah Desa.